Minggu, 02 Juni 2013

Membantu Klien dalam Latihan Nafas Dalam




Oksigen memegang peran penting dalam semua proses tubuh secara fungsional. Tidak adanya oksigen akan menyebabkan tubuh, mengalami kemunduran atau bahkan dapat menimbulkan kematian. Oleh karena itu, kebutuhan oksigen merupakan kebutuhan yang sangat utama dan sangat vital bagi tubuh. Pemenuhan kebutuhan oksigen ini tidak terlepas dari kondisi sistem pernapasan secara fungsional. Bila ada gangguan pada salah satu organ sistem respirasi, maka kebutuhan oksigen akan mengalami gangguan banyak kondisi yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan dalam pemenuhan kebutuhan oksigen, seperti adanya sumbatan pada saluran pernapasan. Masalah kebutuhan oksigen merupakan masalah utama dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Pemenuh kebutuhan oksigen adalah bagian dari kebutuhan fisiologis menurut hierarki Maslow.
Perawat mempunyai perang yang penting dalam pemenuhan kebutuhan oksigen dan cara mengatasi masalah atau gangguan dalam pemenuhan kebutuhan oksigen tersut, Oleh karena itu, perawat harus memahami konsep kebutuhan oksigen. Dalam makalah ini kami menyajikan materi mengenai beberapa teknik yang dapat dilakukan dalam mengatasi masalah pemenuhan kebutuhan oksigen bagi manusia.

A       Gangguan Kebutuhan Oksigen
      Gangguan atau masalah dalam pemenuhan kebutuhan oksigenasi dapat berupa :
1.      Hipoksia, merupakan kondisi ketidakcukupan oksigen dalam tubuh, dari gas yang diinspirasi ke jaringan.

2.      Perubahan pola napas :
Ø  Tachypnea, merupakan pernapasan yang memiliki frekuensi >24 kali/menit disebabkan paru dalam keadaan atelektasis atau terjadi emboli. Ini merupakan nafas yang cepat, dijumpai pada demam, asidosis metabolik, nyeri, hipercapnea, anoxemia ( penurunan O2 dalam darah ).



Ø  Bradypnea, pola pernapasan lambat ± 10 kali/menit. Ini merupakan nafas yang lambat, dijumpai pada pasien yang mendapat morphie sulfat ( penyebab depresi respirasi ), asidosis metabolik, dan pasien dengan PTIK ( peningkatan tekanan intrakranial, → injuri otak ).


Ø  Hyperventilasi, merupakan jumlah udara dalam paru berlebihan. Peningkatan kecepatan dan kedalaman nafas biasanya lebih dari 20 x per menit. Dijumpai pada asidosisi metabolik, dan gagal ginjal.

Ø  Hypoventilasi, merupakan ketidakcukupan ventilasi alveoli ( ventilasi tidak mencukupi kebutuhan tubuh ), sehingga CO2 dipertahankan dalam aliran darah. Hypoventilasi dapat terjadi sebagai akibat dari kollaps alveoli, obstruksi jalan nafas, atau efek samping dari beberapa obat.Dispnea, perasaan sesak dan berat saat pernapasan.


Ø  Orthopnea, kesulitan bernapas kecuali dalam posisi duduk atau berdiri.

Ø  Cheyne stokes, siklus pernapasan yang amplitudonya mula-mula naik kemudian menurun dan berhenti, dari pernafasan yang sangat dalam, lambat dan akhirnya diikuti periode apnea. Ditemui pada pasien  gagal jantung kongestif, PTIK, dan overdosis obat.


Ø  Pernapasan paradoksial, dinding paru bergerak berlawanan arah dari keadaan normal.

Ø  Biot, merupakan nafas dangkal, mungkin dijumpai pada orang sehat dan klien dengan gangguan sistem saraf pusat. Mirip cheyne stokes tetapi amplitudonya tidak teratur.


Ø  Stridor, pernapasan bising karena penyempitan saluran pernapasan.

Ø  Apneustic, henti nafas pada gangguan sistem saraf pusat.

3.      Obstruksi jalan napas
4.      Pertukaran gas

Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kebutuhan oksigenasi antara lain dengan latihan napas dalam, latihan batuk efektif, pemberian oksigen, fisioterapi dada dan pengisapan lendir.

B        Latihan Nafas Dalam
Take a Deep Breathing

1.      Pengertian
Latihan nafas dalam adalah bernapas dengan perlahan dan menggunakan diafragma, sehingga memungkinkan abdomen terangkat perlahan dan dada mengembang penuh (Parsudi, dkk., 2002). Tujuan nafas dalam adalah untuk mencapai ventilasi yang lebih terkontrol dan efisien serta untuk mengurangi kerja bernafas, meningkatkan inflasi alveolar maksimal, meningkatkan relaksasi otot, menghilangkan ansietas, menyingkirkan pola aktifitas otot-otot pernafasan yang tidak berguna, tidak terkoordinasi, melambatkan frekuensi pernafasan, mengurangi udara yang terperangkap serta mengurangi kerja bernafas (Suddarth & Brunner, 2002).
Latihan nafas dalam bukanlah bentuk dari latihan fisik, ini merupakan teknik jiwa dan tubuh yang bisa ditambahkan dalam berbagai rutinitas guna mendapatkan efek relaks. Praktik jangka panjang dari latihan pernafasan dalam akan memperbaiki kesehatan. Bernafas pelan adalah bentuk paling sehat dari pernafasan dalam (Brunner & Suddarth, 2002).
Nafas dalam yaitu bentuk latihan nafas terdiri atas :

a.                   Pernafasan Diafragma
·         Pemberian oksigen bila penderita mendapat terapi oksigen di rumah.
·         Posisi penderita bisa duduk, telentang, setengah duduk, tidur miring ke kiri atau ke kanan, mendatar atau setengah duduk.
·         Penderita meletakkan salah satu tangannya di atas perut bagian tengah, tangan yang lain di atas dada. Akan dirasakan perut bagian atas mengembang dan tulang rusuk bagian bawah membuka. Penderita perlu disadarkan bahwa diafragma memang turun pada waktu inspirasi. Saat gerakan (ekskursi) dada minimal. Dinding dada dan otot bantu napas relaksasi.
·         Penderita menarik napas melalui hidung dan saat ekspirasi pelan-pelan melalui mulut (pursed lips breathing), selama inspirasi, diafragma sengaja dibuat aktif dan memaksimalkan protrusi (pengembangan) perut. Otot perut bagian depan dibuat berkontraksi selama inspirasi untuk memudahkan gerakan diafragma dan meningkatkan ekspansi sangkar toraks bagian bawah.
·         Selama ekspirasi penderita dapat menggunakan kontraksi otot perut untuk menggerakkan diafragma lebih tinggi. Beban seberat 0,5­1 kg dapat diletakkan di atas dinding perut untuk membantu aktivitas ini.

b.              Pursed lips breathing
·         menarik napas (inspirasi) secara biasa beberapa detik melalui hidung (bukan menarik napas dalam) dengan mulut tertutup
·         kemudian mengeluarkan napas (ekspirasi) pelan-pelan melalui mulut dengan posisi seperti bersiul
·         PLB dilakukan dengan atau tanpa kontraksi otot abdomen selama ekspirasi
·         Selama PLB tidak ada udara ekspirasi yang mengalir melalui hidung
·         Dengan pursed lips breathing (PLB) akan terjadi peningkatan tekanan pada rongga mulut, kemudian tekanan ini akan diteruskan melalui cabang-cabang bronkus sehingga dapat mencegah air trapping dan kolaps saluran napas kecil pada waktu ekspirasi

2.      Tujuan

a.      Mengatasi rasa nyeri,
b.      Mendeteksi pola nafas efektif atau tidak efektif,
c.       Memperbaiki ventilasi alveoli atau memelihara pertukaran gas
d.      Meningkatkan relaksasi otot,
e.      Meningkatkan kapasitas paru-paru,
f.        Mencegah atelektasis.

3.      Indikasi

Pasien dengan gangguan paru obstruktif & restriktif.

4.      Prosedur Kerja

a.      Cuci tangan.
b.      Jelaskan prosedur yang akan kita lakukan pada pasien.
c.       Atur posisi nyaman bagi pasien dengan posisi setengah duduk ditempat tidur atau telentang.
d.      Flexikan lutut klien untuk merileksasikan otot abdominal.
e.      Letakkan 1 atau 2 tangan pada abdomen, tepat dibawah tulang iga.
f.        Anjurkan pasien untuk mulai latihan dengan cara menarik nafas dalam melalui hidung dengan bibir tertutup.
g.      Kemudian anjurkan klien untuk menahan napas sekitar 1-2 detik dan disusul dengan menghembuskan napas melalui bibir dengan bentuk mulut seperti orang meniup ( purse lips breathing).
h.      Lakukan 4-5 kali latihan, lakukan minimal 3 kali sehari.
i.        Catat respon yang terjadi setiap kali melakukan latihan nafas dalam.
j.        Cuci tangan.


Text Widget

Pages - Menu

Followers

Blogroll

About

Blogger templates