Minggu, 12 Mei 2013

Pengaruh Penyalahgunaan Narkoba Terhadap Kesehatan Tubuh & Lingkungan Manusia


Berikut ini adalah makalah Bahasa Indonesia yang semoga saja bermenfaat bagi pembaca sebagai penambah wawasan dan pengetahuan maupun sebagai bahan referensi membuat makalah/ tugas.. 
Makasih atas kunjungannya.. :)

PENGARUH PENYALAHGUNAAN NARKOBA TERHADAP KESEHATAN TUBUH DAN LINGKUNGAN MANUSIA

Oleh :
Muhammad Saidul Hudari
NIM PO7120112185

Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen Bahasa Indonesia
Syamsul Bahri, S.Pd, M.Pd











KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN BANJARMASIN
JURUSAN KEPERAWATAN
BANJARBARU
TAHUN 2012

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk sekitar 230 juta telah menjadikan Indonesia mudah untuk menerima pengaruh dari negara-negara lain, salah satunya adalah pengaruh penyalahgunaan narkoba sendiri.
Penyalahgunaan narkoba saat ini sangat memprihatinkan, karena ter-utama menimpa generasi  muda sehingga merugikan pembangunan bangsa. Penyalahgunaan narkoba sangat berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia dan masa depan bangsa. Hal ini berdampak buruk pada kesehatan, pendidikan, ketahanan sosial-ekonomi, dan ketahanan pangan.
Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta melaporkan bahwa dari penderita yang umumnya berusia 15-24 tahun, kebanyakan dari mereka masih aktif di sekolah menengah pertama, sekolah menengaha atas dan perguruan tinggi. Bahkan, ada pulayang masih duduk di sekolah dasar. (Lydia, 2006:1)
Pada tahun 2010, prevalensi penyalahgunaan narkoba meningkat menjadi 2,21 persen atau sekitar 4,02 juta orang. Pada tahun 2011, prevalensi penyalahgunaan narkoba meningkat menjadi 2,8 persen atau sekitar 5 juta orang. Oleh karena itu dituntut adanya peran serta dari berbagai pihak di Indonesia yang dapat memerangi narkoba. Salah satunya konselor sebagai pendidik di lingkungan pendidikan juga dapat ikut berpartisipasi dalam upaya memerangi obat-obatan terlarang tersebut. (Admin, 2012)
Umumnya penggunaan pertama narkoba di awali pada anak usia sekolah dasar, ataupun SMP. Hal itu terjadi biasanya karena penawaran, ajakan teman, tekanan seseorang atau sekelompok orang kepadanya. Didorong rasa ingin tahu, ingin mencoba atau ingin memakai, maka seseorang tersebut akan mau menerima tawaran itu. Selanjutnya, tidak sulit baginya untuk menerima tawaran itu. (Lydia, 2006:1)
Upaya pencegahan mesti dilakukan sedini mungkin, yaitu pada masa anak usia SD, SMP dan SMA, sebagai upaya yang berkesinambungan. Pen-cegahan yang dimaksud bukan hanya semata-mata memberikan informasi tentang bahaya narkoba, tetapi lebih menekankan pemberian keterampilan psikososial kepadanya untuk bersikap dan berperilaku positif, mengenal situasi penawaran juga menolak ajakan tersebut.
Penyalahgunaan narkoba juga merupakan masalah perilaku manusia dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan, bukan semata-mata masalah zat atau narkoba itu sendiri. Sebagai masalah perilaku, banyak faktor yang mem-pengaruhi. Oleh karena itu, informasi tentang bahaya narkoba kepada anak maupun remaja, tanpa usaha mengubah perilakunya dengan memberikan keterampilan yang diperlukan, hasilnya akan kurang bermanfaat. Bahkan, dikhawatirkan terjadi efek paradoks (sebaliknya), yaitu meningkatnya keingintahuan atau keinginan mencoba. Sebagai masalah kesehatan, narkoba juga dapat mengganggu fungsi kerja tubuh sehingga perlu dilakukan rehabilitasi bagi pengguna dan pencegahan bagi masyarakat.
B.  Rumusan Masalah
1.  Apa yang  dimaksud dengan narkoba ?
2.  Apa tanda-tanda pengguna narkoba ?
3.  Bagaimana penggolongan narkoba ?
4.  Bagaimana pola pemakaian narkoba ?
5.  Apakah akibat dari narkoba ?
6.  Bagaimana penanggulangan masalah narkoba ?
7.  Bagaimana pencegahan penyalahgunaan narkoba ?
C.   Tujuan Penulisan
1.  Untuk mengetahui apa itu narkoba.
2.  Untuk mengetahui tanda-tanda pengguna narkoba.
3.  Untuk mengetahui penggolongan narkoba.
4.  Untuk mengetahui pola pemakaian narkoba.
5.  Untuk mengetahui akibat dari narkoba.
6.  Untuk mengetahui bagaimana penanggulangan masalah narkoba.
7.  Untuk mengetahui cara pencegahan penyalahgunaan narkoba.
D.   Manfaat Penulisan
1.  Dapat di jadikan referensi ataupun bahan acuan jika di kemudian hari di butuhkan kembali akan makalah ini.
2.  Dengan membaca makalah ini, pembaca makalah dapat memahami seluk beluk narkoba.
3.  Agar pembaca dapat lebih waspada terhadap penyalahgunaan narkoba.












BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Narkoba
Narkoba atau napza adalah obat/ bahan/ zat, yang bukan tergolong makanan. Jika diminum, dihisap, dihirup, ditelan, atau disuntikkan ber-pengaruh terutama pada kerja otak (susunan saraf pusat) dan sering me-nyebabkan ketergantungan.Demikian pula fungsi vital organ tubuh lain seperti jantung, peredaran darah, pernapasan, dan lain-lain.
Narkoba (narkotika, psikotropika, dan obat terlarang) adalah istilah penegak hukum dan masyarakat. Narkoba disebut berbahaya, karena tidak aman digunakan manusia. Oleh karena itu, penggunaan, pembuatan dan peredarannya diatur dalam undang-undang.
Napza (narkotika, psikotropika, zat aditif lain) adalah istilah dalam dunia kedokteran. Disini penekanannya pada pengaruh ketergantungannya. Oleh karena itu, selain narkotika dan psikotropika, yang termasuk napza adalah juga obat, bahan atau zat, yang tidak diatur dalam undang-undang, tetapi menimbulkan ketergantungan dan sering disalahgunakan. (Lydia, 2006:5)
Bahan-bahan narkoba itu merupakan psycoterapic substance yang dapat membelenggu dan merubah jiwa atau mental pemakainya sehingga tingkah lakunya seperti orang tidak waras. (Fuad, 1999:69)
Narkoba yang di telan masuk ke dalam lambung kemudian ke pem-buluh darah. Jika di hisap, di hirup, zat di serap masuk ke dalam pembuluh darah melalui saluran hidung dan paru-paru. Jika zat di suntikkan, langsung masuk ke aliran darah, kemudian darah membawa zat ke otak. (Lydia, 2006:5)
B.   Tanda-Tanda Pengguna Narkoba
1.  Penampilan fisik
       Pada penampilan fisik pengguna penyalahgunaan narkoba, berat badan turun drastis, mata terlihat cekung dan merah, muka pucat dan bibir kehitam-hitaman, tangan penuh dengan bintik-bintik merah seperti gigitan nyamuk dan ada tanda bekas luka sayatan. Tampak goresan dan perubahan warna kulit ditempat bekas suntikan. Buang air besar dan kecil kurang  lancar. Sering mengeluh sembelit atau sakit perut tanpa alasan yang jelas.
2.   Emosi
       Para pengguna penyalahgunaan narkoba sangat sensitif dan cepat bosan, bila di tegur atau dimarahi malah akan menunjukkan sikap pem-bangkang, emosinya naik turun dan malah tidak ragu untuk memukul orang atau berbicara kasar terhadap anggota keluarga atau orang yang berada disekitarnya. Nafsu makan juga menjadi tidak menentu.
3.  Perilaku
       Perilaku yang sering tampak dari para pengguna penyalahgunaan narkoba seperti, malas dan sering lupa terhadap tanggung jawab dan tugas-tugas rutinnya. Menunjukkan sikap tidak peduli dan jauh dari keluarga. Sering bertemu dengan orang yang tidak di kenal keluarga, pergi tanpa pamit dan pulang lewat tengah malam. Sering mencuri uang dirumahnya sendiri, disekolah atau tempat pekerjaan, dan sering menggadaikan barang-barang berharga di rumah apalagi barang berharga miliknya. Selalu me-ngeluh kehabisan uang. Waktunya di rumah selalu dihabiskan di kamar tidur, kloset,  ruang yang gelap, kamar mandi atau tempat-tempat sepi lainnya. (Nilna, 2009)
C.   Penggolongan Narkoba
       Karena bahaya ketergantungan, penggunaan dan peredaran Narkoba diatur dalam Undang-Undang, yaitu Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Penggolongan jenis-jenis Narkoba berikut didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.
1.  Narkotika
Narkotika Golongan I : Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan.  Contohnya adalah heroin, kokain, ganja.
Narkotika Golongan II : Narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contohnya adalah morfin.
Narkotika Golongan III : Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan keter-gantungan. Contohnya adalah kodein, garam-garam narkotika dalam golongan tersebut. (Lydia, 2006:6)
2.  Psikotropika :
Yaitu zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat dan menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku, yang dibagi menurut potensi yang dapat menyebabkan ketergantungan :
Psikotropika Golongan I : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mem-punyai potensi amat kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan. Contohnya adalah MDMA, ekstasi, LSD, STP.
Psikotropika Golongan II : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan. Contohnya adalah amfetamin, fensiklidin, sekobartial.
Psikotropika Golongan III : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindrom ketergantungan. Contoh: fenobarbital, flunitrazepam.
Psikotropika Golongan IV : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pe-ngetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan. Contoh: diazepam, nitrazepam (BK, MG,DUM). (Lydia, 2006:6)
3.  Zat Psiko-Aiktif Lainnya
          Yaitu bahan/zat bukan narkotika dan psikoterapika yang ber-pengaruh pada kerja otak. Tidak tercantum dalam peraturan perundang-undangan tentang Narkotika dan Psikoterapika. Yang sering disalah-gunakan adalah :
a.   Alkohol, yang terdapat pada berbagai jenis minuman keras.
            b.  Inhalansia / solven, yaitu gas atau zat yang mudah menguap yang terdapat pada berbagai keperluan pabrik, kantor dan rumah tangga.
c.   Nikotin, yang terdapat pada tembakau.
d.  Kafein, pada kopi, minuman penambah energi dan obat sakit kepala tertentu. (Lydia, 2006:7)
Sedangkan penggolongan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya  menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah :
1. Opioid
Bahan opioid adalah saripati bunga opium.  Zat yang termasuk kelompok opioid antara lain :
a.  Heroin, disebut juga diamorfin (INN) bisa ditemukan dalam bentuk pil, serbuk, dan cairan.
b.  Codein, biasanya dijual dalam bentuk pil atau cairan bening.
c.  Comerol, sama dengan codein biasanya dijual dalam bentuk pil atau cairan bening.
2.  Kokain
Kokain merupakan alkaloid yang berasal dari tanaman Erythroxylon coca. Jenis tanamannya berbentuk belukar. Zat ini berasal dari Peru dan Bolivia.
3.  Ganja (Cannabis /Cimeng)
       Ganja merupakan tumbuhan penghasil serat. Akan tetapi, tumbuhan ini lebih dikenal karena kandungan narkotikanya, yaitu tetrahidrokanabinol (THC). Semua bagian tanaman ganja mengandung kanaboid psikoaktif. Cara menggunakan ganja biasanya dipotong, dikeringkan, dipotong kecil-kecil, lalu digulung menjadi rokok. Asap ganja mengandung tiga kali lebih banyak karbon monoksida daripada rokok biasa.
4. Golongan Amfetamin
            Termasuk stimulansia bagi susunan saraf pusat. Contohnya amfetamin, ekstasi, sabu.
5.  Alkohol
     Pada minuman keras.
6.  Halusinogen
     Memberikan halusinasi. Contohnya adalah LSD.
7.  Sedativa dan Hipnotika
     Obat penenang atau obat tidur. Contohnya pil BK dan MG.
8.  Inhalansia dan solven
     Gas atau zat yang mudah menguap yang terdapat pada berbagai keperluan pabrik, kantor dan rumah tangga. Contohnya tiner atau lem.
9.   Nikotin
     Terdapat pada tembakau. Termasuk stimulansia.
10. Kafein
     Terdapat pada kopi, minuman penambah energi dan obat sakit kepala tertentu. (Lydia, 2009:7)
D.   Pola Pemakaian Narkoba
1.  Pola coba-coba
       Biasanya pola ini dilakukan karena penasaran atau rasa ingin tahu. Pengaruh dari tekanan kelompok sebaya juga  sangat besar. Hal ini bisa berupa tawaran atau bujukan untuk memakai narkoba. Ketidakmampuan untuk berkata “tidak” mendorong seseorang untuk mencobanya, apalagi jika ada rasa ingin tahu atau rasa ingin mencoba. (Lydia, 2009:21)
2.  Pola pemakaian sosial
       Pemakaian narkoba untuk tujuan pergaulan (berkumpul dalam acara tertentu) agar diakui atau diterima dalam suatu kelompok. (Lydia, 2009:21)
3.  Pola pemakaian situasional
       Dilakukan karena situasi tertentu, misalnya saat kesepian, stres, dan lain-lain. Hal ini disebut juga tahap instrumental, karena dari pengalaman pemakaian sebelumnya disadari, narkoba dapat menjadi alat untuk memengaruhi atau memanipulasi emosi dan suasana hatinya. Di sini pemakai narkoba telah mempunyai tujuan, yaitu sebagai cara dalam mengatasi suatu masalah. Pada tahap ini, pemakai berusaha memeroleh narkoba secara aktif. (Lydia, 2009:21)
4.  Pola kebiasaan (Habituasi)
       Ketika telah memakai narkoba secara teratur atau sering. Terjadi perubahan pada tubuh dan gaya hidupnya. Teman lama berganti dengan teman kalangan pecandu. Kebiasaan, pakaian, gaya bicara dan sebagainya akan berubah. Ia menjadi sensitif, mudah tersinggung, pemarah, sulit tidur, dan sulit berkonsentrasi, sebab narkoba mulai menjadi bagian dari ke-hidupannya. Minat dan cita-citanya semula pun mulai hilang. Ia menjadi sering membolos dan prestasi menurun. Ia juga lebih suka menyendiri daripada berkumpul bersama keluarga. Meskipun masih dapat mengen-dalikan pemakaiannya, tetapi telah menjadi gejala awal dari keter-gantungan. Pola pemakaian narkoba inilah yang secara klinis disebut dengan penyalahgunaan narkoba. (Lydia, 2009:22)
5.  Pola ketergantungan (kompulsif)
       Timbulnya gejala yang khas, yaitu toleransi (keadaan di mana dosis yang sama tidak lagi berpengaruh seperti penggunaan sebelumnya) atau gejala putus zat (gejala yang timbul jika pemakaian zat dihentikan tiba-tiba atau dikurangi dosisnya). Ia berusaha untuk selalu memperoleh narkoba dengan berbagai cara. Berbohong, menipu, dan mencuri menjadi ke-biasaannya. Ia tidak dapat lagi mengendalikan diri dalam penggunaanya, sebab narkoba telah menjadi pusat kehidupan baginya. Hubungan dengan keluarga dan teman-temannya menjadi rusak. Pada pemakaian beberapa jenis narkoba seperti putauw ketergantungan terjadi sangat cepat. (Lydia, 2009:22)
E.    Akibat Penyalahgunaan Narkoba
1.  Bagi Kesehatan Tubuh Pengguna Narkoba :
a. HIV, Hepatitis dan Beberapa Penyakit Menular Lainnya
Penyalahgunaan narkoba tidak hanya melemahkan sistem ke-kebalan tubuh seseorang, tetapi hal itu juga kerap dikaitkan dengan berbagai perilaku berbahaya, seperti pemakaian jarum suntik yang tidak steril. Selain dari itu juga hubungan seksual (anal, oral, vaginal) yang tidak terlindungi (tanpa kondom). (Hardhi, 2012:1).
Kombinasi dari keduanya akan sangat berpotensi meningkatkan resiko tertular penyakit HIV/AIDS, hepatitis, dan beragam penyakit infeksi lainnya. Perilaku berbahaya tersebut biasanya berlaku bagi penggunaan narkoba berjenis heroin, kokain, steroid, dan metamfetamin.
b.  Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
Para peneliti telah menemukan semacam korelasi antara penyalah-gunaan narkoba (dalam berbagai frekuensi penggunaan) dengan ke-rusakan fungsi jantung, mulai dari detak jantung yang abnormal sampai dengan serangan jantung.
Penyuntikan zat-zat psikotropika juga dapat menyebabkan kolapsnya saluran vena, serta resiko masuknya bakteri lewat pembuluh darah dan klep jantung. Beberapa jenis narkoba yang dapat merusak kinerja sistem jantung antara lain kokain, heroin, inhalan, ketamin, LSD, mariyuana, MDMA, methamphetamin, nikotin, PCP, dan steroid.
c. Penyakit Gangguan Pernapasan
        Penyalahgunaan narkoba juga dapat menyebabkan beragam per-masalahan sistem pernafasan. Merokok, misalnya sudah terbukti merupakan penyebab penyakit bronkitis, emfisema, dan kanker paru-paru. Begitu pula dengan menghisap mariyuana yang bisa membawa dampak lebih parah lagi. Penggunaan sejumlah zat psikotropika juga dapat mengakibatkan lambatnya pernapasan, menghalangi udara segar memasuki paru-paru yang lebih buruk dari gejala asma.
d. Penyakit Nyeri Lambung
        Dari efek merugikan yang ditimbulkannya, beberapa kasus pe-nyalahgunaan narkoba juga diketahui dapat menyebabkan mual dan muntah beberapa saat setelah dikonsumsi. Penggunaan kokain juga dapat mengakibatkan nyeri pada lambung.
e.  Penyakit Kelumpuhan Otot
        Penggunaan steroid pada masa kecil dan masa remaja, meng-hasilkan hormon seksual melebihi tingkat sewajarnya, dan meng-akibatkan pertumbuhan tulang terhenti lebih cepat dibanding saat normal. Sehingga tinggi badan tidak maksimal, bahkan cenderung pendek. Beberapa jenis narkoba juga dapat mengakibatkan kejang otot yang hebat, bahkan bisa berlanjut pada kelumpuhan otot.
f.  Penyakit Gagal Ginjal
        Beberapa jenis narkoba juga dapat memicu kerusakan ginjal, bahkan menyebabkan gagal ginjal, baik secara langsung maupun tak langsung akibat kenaikan temperatur tubuh pada tingkat membahaya-kan sampai pada terhentinya kinerja otot tubuh.
g.  Penyakit Neurologis
        Semua perilaku penyalahgunaan narkoba mendorong otak untuk memproduksi efek euforis. Bagaimanapun, beberapa jenis psikotropika juga memberikan dampak yang sangat negatif pada otak seperti stroke, dan kerusakan otak secara meluas yang dapat melumpuhkan segala aspek kehidupan pecandunya. Penggunaan narkoba juga dapat meng-akibatkan perubahan fungsi otak, sehingga menimbulkan permasalahan ingatan, permasalahan konsentrasi, serta ketidakmampuan dalam pengambilan keputusan.
h. Penyakit Kelainan Mental
        Penyalahgunaan narkoba yang sudah sampai pada level kronis dapat mengakibatkan perubahan jangka panjang dalam sel-sel otak, yang mendorong terjadinya paranoid, depresi, agresi, dan halusinasi.
i.  Penyakit Kelainan Hormon
        Penyalahgunaan narkoba dapat mengganggu produksi hormon di dalam tubuh secara normal, yang mengakibatkan kerusakan yang tidak dapat dipulihkan kembali. Semua perusakan ini meliputi kemandulan dan penyusutan testikel pada pria, sebagaimana juga efek maskulinisasi yang terjadi pada wanita.
j.  Penyakit Kanker
        Aktifitas merokok nikotin ini biasa dihubungkan dengan penyakit kanker mulut, leher, lambung, dan paru-paru. Merokok mariyuana juga bisa mengakibatkan masuknya bakteri karsinogen ke dalam paru-paru, hingga merubah fungsi paru-paru di tahap pra-kanker.
k. Penyakit Gangguan Kehamilan
        Efek keseluruhan akibat ketergantungan narkoba terhadap ke-sehatan janin yang dikandung memang tidak diketahui. Namun, beberapa studi menunjukkan bahwa penyalahgunaan narkoba dapat menyebabkan kelahiran prematur, keguguran, penurunan berat badan bayi, serta berbagai permasalahan perilaku maupun kognitif pada bayi di kemudian hari. (Anonim, 2012)
l. Permasalahan Kesehatan Lainnya
     Sebagai tambahan dari berbagai penjelasan tentang penyakit yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan narkoba di atas, perlu diketahui pula bahwa semua jenis narkoba tersebut memiliki potensi merubah fungsi tubuh secara keseluruhan. Termasuk diantaranya perubahan selera makan dan peningkatan suhu tubuh secara dramatis yang bisa melumpuhkan kesehatan dalam waktu singkat. Tidak cukup sampai disitu, zat psikotropika berpotensi menimbulkan kelelahan yang berkepanjangan, mengombang-ambingkan perasaan, kepenatan mendalam, perubahan selera makan, nyeri pada otot dan tulang, hilang ingatan, diare, keringat dingin, dan muntah-muntah.
2.     Bagi Keluarganya
a. Suasana hidup nyaman menjadi terganggu. Keluarga resah karena barang-barang berharga di rumah hilang, anak berbohong, mencuri, menipu, bersikap kasar, acuh tak acuh dengan urusan keluarga, tidak bertanggung jawab, hidup semaunya, dan asosial.
b. Orang tua malu karena memiliki anak pecandu, merasa bersalah, tetapi juga sedih dan marah sehingga perilaku ikut berubah dan fungsi keluarga terganggu.
c.  Orang tua putus asa karena masa depan anak tidak jelas, anak putus sekolah/menganggur   karena dikeluarkan dari sekolah, stres meningkat, dan membuat ekonomi keluarga morat-marit. (Lydia, 2006:25)
3.    Bagi Institusi Sekolah/ Tempat Kerjanya
a.  Narkoba merusak disiplin dan motivasi yang sangat penting bagi proses belajar, prestasi belajar turun drastis, siswa menjadi nakal, sering mem-bolos dan akhirnya putus sekolah.
b. Penyalahgunaan narkoba berhubungan dengan kejahatan dan perilaku asosial yg mengganggu ketertiban & keamanan sekolah.
c. Cenderung meningkatkan perkelahian pelajar, perusakan barang-barang milik sekolah/kampus, pencurian barang teman/karyawan.
d.   Mencemarkan nama baik sekolah. (Lydia, 2006:25)
4.    Bagi Masyarakat, Bangsa, dan Negara
a. Mafia perdagangan gelap selalu berusaha memasok narkoba. Terjalin hubungan antara pengedar/ bandar dan korban sehingga tercipta pasar gelap yang sulit diputus mata rantai peredarannya.
b. Masyarakat yang rawan narkoba tidak memiliki daya tahan, sehingga kesinambungan pembangunan terancam.
c. Negara menderita kerugian karena masyarakatnya tidak produktif dan tingkat kejahatan meningkat, belum lagi sarana dan prasarana yang harus disediakan untuk mengobati korban narkoba. (Lydia, 2006:26)
F.    Penanggulangan Masalah Narkoba
1.   Pre-Emitif
     Pre-emtif adalah pencegahan yang dilakukan secara dini melalui kegiatan-kegiatan edukatif dengan sasaran mempengaruhi faktor-faktor penyebab, pendorong dan faktor peluang yang biasa disebut sebagai Faktor Korelatif Kriminogen (FKK) dari terjadinya pengguna untuk menciptakan sesuatu kesadaran dan kewaspadaan serta daya tangkap guna terbinanya kondisi perilaku dan norma hidup bebas dari penyalahgunaan narkotika, psikotropika maupun mengkonsumsi minuman keras.
     Kegiatan ini pada dasarnya merupakan pembinaan pengembangan lingkungan serta pengembangan sarana dan kegiatan positif.  Lingkungan keluarga sangat besar peranannya dalam mengantisipasi segala perbuatan yang dapat merusak kondisi keluarga yang telah terbina dengan serasi dan harmonis.
Sekolah juga merupakan lingkungan yang sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan kepribadian remaja, baik untuk pengembangan ilmu pengetahuan maupun pengaruh negatif dari sesama pelajar, oleh karena itu perlu terbina hubungan yang harmonis baik sesama pelajar maupun antara pelajar dengan pengajar sehingga akan menghindari bahkan menghilang-kan peluang pengaruh negatif untuk dapat berkembang di lingkungan pelajar.
Mengembangkan pengetahuan kerohanian atau keagamaan dan pada saat-saat tertentu dilakukan pengecekan terhadap murid untuk mengetahui apakah diantara mereka telah menyalahgunakan narkotika, psikotropika maupun minuman-minuman keras.
2.    Preventif
       Bahwa pencegahan adalah lebih baik dari pada pemberantasan, oleh karena itu perlu dilakukan pengawasan dan pengendalian Police Hazard (PH) untuk mencegah suplay and demand agar tidak saling interaksi, atau dengan kata lain mencegah terjadinya Ancaman Faktual (AF).
     Bahwa upaya preventif bukan semata-mata dibebankan kepada Polri, namun juga melibatkan instansi terkait seperti Bea dan Cukai, Badan POM, guru, pemuka agama dan tidak terlepas dari dukungan maupun peserta masyarakat, karena dalam usaha pencegahan pada hakekatnya adalah :
a.  Penanaman disiplin melalui pembinaan pribadi dan kelompok.
b.  Pengendalian situasi, khususnya yang menyangkut aspek budaya, ekonomi dan politik yang cenderung dapat merangsang terjadinya penyalahgunaan narkotika, psykotropika maupun minuman keras.
c.  Pengawasan lingkungan untuk mengurangi atau meniadakan kesempatan terjadinya penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan obat-obatan berbahaya/minuman keras.
d.  Pembinaan atau bimbingan dari partisipasi masyarakat secara aktif untuk menghindari penyalahgunaan tersebut dengan mengisi kegiatan-kegiatan yang positif.
Polri dalam upaya mencegah penyalahgunaan narkotika, psykotropika dan minuman keras bersama-sama dengan instansi terkait melakukan penyuluhan terhadap segala lapisan masyarakat baik secara langsung, melalui media cetak maupun media elektronik.
     Melakukan operasi kepolisian dengan cara patroli, razia di tempat-tempat yang dianggap rawan terjadinya penyalahgunaan narkotika, psykotropika maupun obat-obatan berbahaya/minuman keras.
3.   Represif
Merupakan upaya penindakan dan penegakan hukum terhadap ancaman faktual dengan sangsi yang tegas dan konsisten sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku untuk membuat efek jera bagi para pengguna dan pengedar Narkoba.
Bentuk - bentuk kegiatan yang dilakukan Polri dalam upaya Represif tersebut adalah :
a.  Menangkakap pelaku dan melimpahkan berkas perkaranya sampai ke pengadilan.
b.  Memutuskan jalur peredaran gelap Narkoba .
c.  Mengungkap jaringan sindikat pengedar.
d.  Melaksanakan Operasi Rutin Kewilayahan dan operasi khusus terpusat secara berlanjut. Fungsi yang dikedepankan adalah fungsi Reserse.
4.   Rehabilitasi dan Treatment
Rehabilitasi dan Treatment merupakan usaha untuk menolong, merawat dan merehabilitasi korban penyalahgunaan Narkoba/obat ter-larang dalam lembaga tertentu, sehingga diharapkan para korban dapat kembali ke dalam lingkungan masyarakat atau dapat bekerja dan belajar serta hidup dengan layak.
Dalam upaya penyembuhan dan pemulihan kondisi para korban penyalahgunaan narkoba/obat terlarang di Indonesia, dewasa ini Polri bekerjasama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ataupun lembaga sosial masyarakat lainnya untuk melakukan pemulihan terhadap para korban penyalahgunaan Narkoba.
G.   Pencegahan Narkoba
1.     Model Moral-Legal
Penganut model ini adalah para penegak hukum, tokoh agama dan kaum moralis. Di sini narkoba dianggap sebagai penyebab masalah. Pengedar dan penggunanya secara moral (sosial) adalah pelaku kejahatan yang harus dihukum dan dijauhkan dari lingkungan sosialnya. Tujuan utama penanggulangan ini adalah “bagaimana menjauhkan narkoba dari penggunaanya oleh masyarakat?”. Narkoba adalah unsur aktif sedangkan masyarakat adalah korban yang harus dilindungi dengan pengaturan moral, sosial dan legal. Pencegahan dilakukan dengan pengawasan ketat peredaran narkoba, meningkatkan harga jual, ancaman hukuman berat dan peringatan keras tentang bahaya narkoba dengan harapan agar masyarakat waspada terhadap bahayanya.
Model ini dulu menjadi bobot terbesar cara pencegahan di banyak negara. Saat inipun masih berlaku pada negara yang penegakan hukum-nya menjadi tolak ukur, seperti Singapura, Malaysia dan Indonesia. Akan tetapi penegakan hukumnya sangat lemah. (Lydia, 2006:30)
2.    Model Medik dan Kesehatan Masyarakat
Ahli kedokteran dan kesehatan menganggap penyalahgunaan narkoba merupakan penyakit menular yang berbahaya sehingga penanggulangan harus mengikuti cara pemberantasan penyakit menular. Model ini juga menganggap narkoba sebagai penyebab masalah. Namun narkoba di sini diartikan hanya sebagai penyebab ketergantungan. (Lydia, 2006:30)
Pencegahan ini tidak jauh berbeda dengan model yang pertama. Hanya di sisi narkoba tidak di lihat sebagai unsur yang melanggar hukum, tetapi lebih sebagai penyebab suatu penyakit. Individupun di golongkan sebagai rawan terhadap narkoba maupun tidak rawan.
3.    Model Psikososial
Model ini menempatkan individu sebagai unsur yang aktif dalam rumus narkoba-individu-lingkungan. Penanggulangannya ditujukan pada faktor perilaku individu. Disebut model psikososial karena perilaku seseorang bergantung pada dinamika lingkungannya, baik dari segi perkembangan dan pendidikannya maupun dalam berinteraksi dngan lingkungannya.
Penyalahgunaan narkoba disini dilihat sebagai masalah perilaku, ada beberapa prinsip yang perlu diketahui yaitu :
a.    Pemakaian narkoba berbeda tiapa individu
b.    Sebagai fenomena psikososial
c.    Pemberian informasi saja
Pencegahan pada model ini ditujukan pada perbaikan kondisi pendidikan atau lingkungan psikososialnya, seperti keluarga, sekolah dan masyarakat.  Pemberian informasi narkoba dengan cara menakut-nakuti sangat tidak dianjurkan. (Lydia, 2006:31)
4.    Model Sosial Budaya
Model ini menekankan pentingnya lingkungan dan konteks sosial-budaya. Penyalahgunaan narkoba lain dikatakan sebagai perilaku yang menyimpang. Artinya menyimpang dari norma sosial-budaya yang berlaku, yang variabelnya ditentukan oleh kultur yang sangat kompleks.
       Sasaran model ini adalah perbaikan kondisi sosial ekonomi dan lingkungan masyarakat. Industrialisasi, urbanisasi dan kurangnya kesempatan kerja menjadi perhatian utama. Oleh karena itu, lembaga-lembaga, terutama pendidikan perlu di modifikasi menjadi lebih manusiawi; pelayanan kesehatan dan sosial ditujukan bagi kepentingan klien; pengembangan potensi masyarakat pada setiap kelompok umur; perluasan kesempatan kerja dan sebagainya. (Lydia, 2006:32)
5. Pendekatan Komprehensif
       Setiap model memperhatikan pandangan yang berbeda dan meng-anjurkan saran yang berbeda pula untuk mencegah dan menanggulangi penyalahgunaan narkoba. Masalah narkoba memang sangatlah kompleks, tidak mungkin masalah itu hanya didekati oleh satu sisi saja. Oleh karena itu, agar upaya pencegahan dan penanggulangannya efektif dan efisien perlu dilakukan secara bersama-sama. Inilah makna pendekatan menyeluruh atau komprehensif. Semua pihak mengambil bagian masing-masing sesuai dengan kompetensi dan bidang tugasnya. (Lydia, 2006:33)








BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
          Narkoba atau Napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif lain) adalah obat, bahan, dan zat bukan makanan, yang jika diminum, dihisap, dihirup, ditelan, atau disuntikkan berpengaruh pada kerja otak (susunan saraf pusat) dan sering menyebabkan ketergantungan. Akibatnya, kerja otak berubah (meningkat atau menurun), demikian pula fungsi vital organ tubuh lainnya seperti jantung, peredaran darah, pernapasan, dan lain-lain.
Tanda pengguna narkoba secara fisik pengguna antar lain berat badan turun drastis, mata terlihat cekung dan merah, muka pucat dan bibir kehitam-hitaman, tangan penuh dengan bintik-bintik merah seperti gigitan nyamuk dan ada tanda bekas luka sayatan. Sehari-hari sering lupa terhadap tanggung jawab dan tugas-tugas rutinnya.
Karena bahaya ketergantungan, penggunaan dan peredaran Narkoba diatur dalam Undang-Undang, yaitu Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Penggolongan jenis-jenis Narkoba berikut didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku yang di bagi menjadi Narkotika yang terbagi jadi 3 golongan, psikotropika yang di bagi 3 golongan serta zat adiktif lainnya.
       Adapun pola pemakaian yang biasa di pakai pengguna narkoba di antaranya pola coba-coba, pola pemakaian sosial, pola pemakaian situasional, pola kebiasaan, pola ketergantungan (kompulsif). Akibatnya terhadap diri sendiri yaitu terganggunya fungsi otak dan perkembangan normal remaja, intoksitasi (keracunan), overdosis (OD), dan lain-lain. Sedang bagi keluarganya suasana hidup nyaman menjadi terganggu. Keluarga resah karena barang-barang berharga di rumah hilang, anak berbohong, mencuri, menipu, bersikap kasar, acuh tak acuh dengan urusan keluarga, tidak bertanggung jawab, hidup semaunya, dan asosial. Bagi sekolah narkoba merusak disiplin dan motivasi yang sangat penting bagi proses belajar, prestasi belajar turun drastis, menjadi nakal, sering membolos dan akhirnya putus sekolah.
Penanggulangannya dapat berupa pre-emitif, preventif, represif, serta rehabilitasi dan treatment sedang pencegahannya dapat berupa model moral-legal, model medis, model psikososial, dan model sosial budaya serta pendekatan komprehensif.
B.   Saran dan Harapan
Saya selaku penulis mempunyai saran untuk para pembaca maupun pengguna agar sebaiknya memiliki buku referensi lain yang mendukung makalah ini karena makalah ini masih banyak kekurangan, dimohon untuk para pembaca maupun pengguna untuk bisa memberikan saran dan kritiknya pada makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Admin. 2012. Diakses di http://www.belajarpsikologi.com tanggal 06 Desember 2012
Anonim. 2012. Diakses di http://www.spesialis.info tanggal 06 Desember 2012
Isna, Nilna R. 2007. Diakses di http://nilna.wordpress.com tanggal 06 Desember 2012
Kauma, Fuad . 1999. Sensasi Remaja Di Masa Puber . Jombang : Kalam Mulia.
Kusuma, Hardhi dan Amin Huda Nurarif. 2012. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan NANDA NIC-NOC. Yogyakarta : Media Hardy
Martono,  Lydia Harlina dan Satya Joewana. 2006. Pencegahan dan Penang-gulangan Penyalahgunaan Narkoba. Jakarta : Balai Pustaka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Pages - Menu

Followers

Blogroll

About

Blogger templates