Selasa, 14 Mei 2013

Membantu Klien Makan & Minum (Oral & NGT)


MEMBANTU PASIEN MAKAN & MINUM
Oleh :

1.         Husna Mustika
2.         Icho Marselawati
3.         Lasty Agusriani
4.         Lilis Khalisah
5.         M. Fahrin Nizami
6.         M. Indra Lesmana
7.         M. Norhadi
8.         M. Saidul Hudari

Kelompok II
Tingkat I A
Dosen Pembimbing Kebutuhan Dasar Manusia II
Nasrullah W, S. ST, MARS


KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN BANJARMASIN
JURUSAN KEPERAWATAN
BANJARBARU
TAHUN 2012


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
      Semua orang menyenangi makan dan minum, kecuali jika orang-orang yang mengalami gangguan-gangguan tertentu sehingga membuat mereka merasa tak enak jika diberi makan, atau sekedar diberi minum. Namun, ada juga sebagian dari mereka yang senang atau bisa makan dan minum dengan baik, namun keadaan fisiknya yang tidak memungkinkannya atau sulit melakukan secara mandiri, misalnya pada tangan yang digips, matanya buta atau sedang diperban dan sebagainya. Memberi makan dan minum pada pasien-pasien yang mengalami gangguan-gangguan tertentu bisa dibantu oleh perawat, keluarga atau berkolaborasi antara keduanya.
      Individu sakit membutuhkan lebih banyak makanan daripada orang sehat, dalam upaya penyembuhan dan pemulihan. Sebagai contoh, pasien yang menjalani pembedahan membutuhkan diet yang mengandung banyak vitamin C dan protein karena ini dapat membantu penyembuhan. Juga, protein secara khusus penting untuk melawan infeksi karena antibodi yang digunakan tubuh untuk melawan infeksi adalah protein. Orang sering menggunakan cadangan protein mereka ketika mengalami pembedahan atau cedera atau mengalami sakit disertai demam. Namun, banyak penyakit membuat seseorang sulit untuk makan, atau membuat individu sulit untuk mencerna makanan. ( Monica, 2005)
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi pasien ?
2.      Bagaimana cara menyiapkan makanan dan minuman pasien ?
3.      Bagaimana cara menghidangkan makanan dan minuman pasien ?
4.      Bagaimana cara membantu pasien makan dan minum secara oral ?
5.      Bagaimana cara memberi makan melalui NGT ( Nasogastric Tube) ?
1.3  Tujuan Penulisan
1.      Dapat  memahami arti penting dari pemenuhan kebutuhan nutrisi pasien.
2.   Dapat memahami dan melaksanakan cara-cara dalam menyiapkan makanan dan minuman untuk pasien.
3.      Dapat memahami dan melaksanakan cara penghidangan makan dan minum pada pasien.
4.  Dapat memahami dan melaksanakan cara membantu pasien makan dan minum secara oral secara benar.
5.  Dapat memahami serta melaksanakan dengan tepat cara pemberian makan melalui NGT (Nasogastritic Tube).


     
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi Pasien
            Rumah sakit adalah suatu wadah atau tempat pelayanan kesehatan yang berusaha untuk mencapai pemulihan penderita dalam waktu sesingkat mungkin, dan salah satu upaya untuk mencapai tujuan tersebut adalah pelayanan gizi yang meliputi penyelenggaraan makanan, pemberian makanan yang memenuhi kebutuhan gizi dan termakan habis oleh setiap pasien merupakan salah satu faktor untuk mempercepat proses pemulihan atau kesembuhan pasien. Zat gizi yang optimal pada pasien di Rumah Sakit sangat bermanfaat dalam mengurangi jangka waktu perawatan dan mempercepat penyembuhan, mengurangi komplikasi, menurunkan mortalitas, dan memperbaiki status gizi pasien.
Sebagai perawat yang membantu pasien dalam makannya, kita juga perlu memperhatikan makanan yang diperuntukkan kepada pasien yang terdiri atas :
1.         Makanan pokok untuk memberi rasa kenyang, dalam hal ini adalah nasi. Makanan pokok berperan sebagai sumber utama energi dan itu berasal dari karbohidrat.
2.         Lauk yang merupakan sumber dari protein. Lauk sebaiknya terdiri atas campuran lauk hewani dan nabati. Lauk hewani merupakan sumber protein, fosfor, tiamin, tiasin, vitamin B6 dan vitamin B12, zat besi, seng, magnesium dan silenium.
3.         Sayur untuk memberi rasa segar dan melancarkan proses menelan makanan karena biasanya dihidangkan dalam bentuk berkuah. Sayur merupakan sumber mineral dan vitamin. Sayur juga merupakan sumber vitamin A, vitamin C, asam folat, magnesium, kalium dan serat, serta tidak mengandung lemak dan kolesterol.
4.         Buah untuk "mencuci mulut" dalam artian kata sebagai makanan penutup setelah mengkonsumsi makanan utama. Buah juga merupakan sumber mineral dan vitamin. Porsi buah yang dianjurkan sehari untuk orang dewasa adalah sebanyk 200-300 gram atau 2-3 potong sehari berupa pepaya atau buah yang lain.
5.         Susu mengandung protein bernilai biologi tinggi dan zat esensial lain dalam bentuk yang mudah dicerna dan diserap, maka susu terutama dianjurkan pula sebagai unsur kelima yang dibutuhkan oleh tubuh.
Jika dikaitkan dengan asupan makanan pasien yang sedang dalam perawatan maka diharapkan dengan adanya makanan yang bervariasi ini maka pasien dapat menyukai dan menikmati segala jenis makanan yang diberikan pihak Rumah sakit, meningkatkan nafsu makan dan menambah selera makan sehingga kebutuhan pasien akan zat-zat gizi dapat terpenuhi, bisa mempercepat proses penyembuhan, dan mengurangi biaya perawatan.
                Ketika pasien yang sedang di hospitalisasi, tentu saja kebutuhan nutrisi sehari-hari menjadi terganggu. Sebagai perawat, memberi makan dan minum pada pasien-pasien yang mengalami gangguan-gangguan nutrisi menjadi bagian dari proses keperawatan. Pemberian makan dan minum tersebut dapat dibantu oleh perawat, keluarga atau berkolaborasi antara keduanya.
            Adapun kondisi-kondisi yang mempersulit mendapatkan nutrisi yang adekuat diantaranya (Monica, 2005) :
·         Individu yang menderita luka pada tenggorok mungkin mengalami kesulitan untuk menelan.
·         Individu yang mengalami masalah lambung munkin mual terhadap makanan.
·         Individu yang demam mungkin tidak nafsu makan.
·         Pasien di rumah sakit hampir selalu berisiko mengalami kekurangan nutrisi karena penyakit mereka atau karena tindakan terhadap penyakit mereka.
·         Banyak pasien telah mengalami kekurangan nutrisi ketika masuk rumah sakit.
·         Makanan yang dihidangkan di rumah sakit mungkin berbeda dari makanan yang biasa dikonsumsi pasien. Pasien mungkin tidak suka makanan rumah sakit.
·         Makanan mungkin dihidangkan pada waktu ketika pasien tidak biasa makan dan ketika mereka tidak merasa lapar.
·         Pasien sering mendapat diet khusus di rumah sakit untuk membantu terapi penyakit mereka (sebagai contoh, individu yang mengalami masalah jantung biasa mendapat diet rendah garam). Pasien mungkin tidak suka perubahan pada diet.
·         Keluarga pasien mungkin tinggal jauh sehingga mereka tidak dapat membawa makanan yang disukainya, atau keluarga mungkin tidak tahu makanan yang tepat untuk dibawa, atau mungkin tidak dapat mengupayakan makanan yang tepat.
            Salah satu contoh jika pasien tangannya digips, kehilangan salah satu tangan atau kekuatan gerakan bisa dibantu dengan mempersiapkan makanan dan mendekatkan tempat makanan kepada pasien agar mudah dijangkau. Misalnya membuka kulit telur, mengoleskan roti, mengupas buah, dan sebagainya.
            Sedangkan pasien yang mengalami kesulitan minum dari cawan atau gelas, bisa diberi sedotan untuk memudahkan. Lebih higienis jika minuman itu menggunakan gelas sekali pakai, agar kebersihan selalu terjaga. Karena jika tempat minum yang dibiarkan berlama-lama ditempat, akan lebih mudah bagi mikroorganisme berkembang pada suhu ruangan.
            Ada juga pasien yang tidak diperbolehkan untuk makan dan minum sendiri, maka dalam hal ini perlu pengaturan posisi duduk yang efektif. Posisi yang diharapkan adalah posisi duduk yang tegak, tidak bersandar atau berbaring supaya makanan tepat masuk kedalam kerongkongan. Namun, jika memang tidak memungkinkan untuk duduk tegak, mereka diperbolehkan berbaring atau setengah berbaring seperti bersandar, dan dilakukan pemberian makanan dengan hati-hati.
            Perawat yang bertugas untuk membantu pasien, hendaknya dalam keadaan yang rileks, menempatkan posisi yang nyaman serta tidak terlihat seperti sedang buru-buru, agar pasien merasa senang dan bisa makan dengan tenang.
            Tujuan pemenuhan kebutuhan nutrisi pasien dengan memberi makan pasien tersebut yaitu semata-mata untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi pasien dengan membangkitkan selera pasien pada pasien yang tidak mandiri serta untuk mempercepat proses penyembuhan dan hospitalisasi yang di lakukan.
2.2  Menyiapkan Makanan dan Minuman Untuk Pasien
Persiapan Alat :
Piring, gelas, alas dan tutup gelas, sendok, garpu, mangkuk sayur, mangkuk lauk dan baki.
Cara Kerja ;
1.      Perawat cuci tangan.
2.      Siapkan baki, piring, gelas dengan alas dan tutupnya, sendok, garpu, mangkuk sayur, mangkuk lauk dan sedotan.
3.      Ambil makanan dari kereta makanan dan panaskan.
4.      Sajikan makanan di tempat yang sudah disiapkan sesuai dengan diet pasien.
Sikap perawat :
Selalu bekerja dengan hati-hati dan rapi.
2.3 Menghidangkan makanan dan minuman
Persiapan alat :
Baki berisi makanan dan minuman
Cara kerja :
1.      Cuci tangan
2.      Bawa makanan dan minuman yang telah disiapkan kepada pasien.
3.      Beritahu pasien bahwa makanan sudah siap.
4.      Hidangkan makanan dan minuman.
§  Di meja pasien
a.      Bentangkan serbet diatas meja
b.      Susun alat makan dia atas serbet
§  Pasien berbaring
a.      Anjurkan pasien tidur miring
b.      Bentangkan serbet dibawah dagu pasien
c.       Letakkan baki berisi makanan diatas tempat tidur pasien
d.      Buka penutup makanan
e.      Persilakan pasien makan
f.        Perhatikan pasien pada waktu makan
Sikap perawat :
·         Tidak tergesa-gesa.
·         Ramah dan memaklumi keadaan pasien.
2.4  Membantu Pasien Makan Dan Minum Secara Oral
Pemberian nutrisi melalui oral merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara sendiri dengan cara membantu memberikan makanan nutrisi melalui oral. Adapun hal yang perlu diperhatikan sebelum pemberian makan dan minum pasien adalah :
a.        Ciptakan lingkungan yang nyaman disekitar pasien.
b.        Sebelum di hidangkan, makanan di periksa dahulu, apakah sudah sesuai dengan daftar makanan/diet pasien.
c.        Usahakan makanan dihidangkan dalam keadaan hangat kecuali kontra indikasi.
d.        Sajikan makanan secukupnya, tidak terlalu banyak tetapi juga tidak terlalu sedikit.
e.        Peralatan makanan dan minuman harus bersih
f.         Untuk pasien anak – anak, usahakan menggunakan peralatan yang menarik perhatiannya.
g.        Untuk pasien yang dapat makan sendiri, perhatikan apakah makanan di makan habis atau tidak.
h.        Perhatikan selera dan keluhan pasien pada waktu makan serta reaksinya setelah makan.
Indikasi :
Diberikan kepada pasien yang memiliki ganguan mobilitas tetapi masih sadar.
Kontra Indikasi :
Tidak dapat diberikan pada pasien koma , CA nasofaring, CA mandibularis
Alat dan Bahan :
1.      Piring
2.      Sendok
3.      Garpu
4.      Gelas
5.      Serbet
6.      Mangkok cuci tangan
7.      Pengalas
8.      Jenis diet
Prosedur :
1.        Cuci tangan
2.        Jelaskan prosedur yang dilakukan
3.        Mengatur posisi pasien dengan posisi kepala lebih tinggi daripada badan
4.        Membentangkan serbet dibawah dagu pasien
5.        Anjurkan pasien untuk berdoa sebelum makan
6.        Pasien ditawari minum, jika perlu gunakan sedotan
7.        Beritahu pasien jika makanan panas atau dingin, anjurkan untuk mencicipi makanan terlebih dahulu.
8.        Suapkan makanan sedikit demi sedikit untuk menghindari tersedak
9.        Setelah selesai makan pasien diberi minum, bersihkan mulut pasien, dan dianjurkan dengan pemberian obat.
10.    Catat hasil atau respon pemenuhan terhadap makanan.
11.     Bereskan alat dan cuci tangan.
2.5  Memberi Makan Melalui NGT ( Nasogastric Tube)
Pemberian nutrisi melalui pipa penduga atau lambung merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara oral atau tidak mampu menelan, dengan cara memberi makan melalui pipa lambung.
a.      Tujuan :
·         Dekompressi yaitu membuang dan substansi gas dari saluran gastrointestinal, mencegah atau menghilangkan distensi abdomen.
·         Memberi makan yaitu memasukkan suplemen nutrisi cair atau makanan kedalam lambung untuk klien yang tidak dapat menelan cairan.
·         Kompressi yaitu memberi tekanan internal dengan cara mengembangkan balon untuk mencegah perdarahan internal pada esofagus.
·         Bilas lambung yaitu irigasi lambung akibat pendarahan aktif, keracunan, atau dilatasi lambung.
b.      Persiapan Pasien
    1. Mengkaji pasien yang diberi makan atau minum lewat NGT.
    2. Mencocokkan identitas.
    3. Menentukan pasien yang harus diberi makan atau minum personde
    4. Menjelaskan kepada pasien hal-hal yang akan dikerjakan (maksud dan tujuan).
    5. Mengatur posisi pasien . Sikap pasien semi fowler sedikit flexi sedang untuk pasien anak dengan 1 bantal.
c.       Persiapan Alat
1.      Baki yang dilapisi pengalas berisi :
·         Bak instrumen steril:
Ø  Sepasang sarung tangan.
Ø  NGT / maslang / sonde lambung
Ø  Sudip lidah / spatel
Ø  Kasa pada tempatnya
Ø  Corong / tabung semprot 50-100 cc
Ø  Kapas alkohol
·         Bak instrumen non steril:
Ø  Jeli
Ø  Senter
Ø  Plester
Ø  Stetoskop
Ø  Handuk kecil / serbet / pengalas
Ø  Tisu / selstop
Ø  Bengkok
Ø  Makanan cair pasien
Ø  Gelas berisi air minum
Ø  Gunting
Ø  Air bersih di dalam baskom kecil
Ø  Peniti
Ø  Spuit 20 cc
d.      Prosedur :
1.         Beri salam/sapa pasien
2.         Jelaskan tindakan yang akan dilakukan.
3.         Perawat cuci tangan.
4.         Pasang sampiran.
5.         Dekatkan alat kepasien.
6.         Bentu pasien pada posisi nyaman (bila memungkinkan pada posisi semi fowler/fowler)
7.         Pasang handuk di atas dada pasien sampai ke pinggir tempat tidur dan letakkan tisu di dekat bantal pasien.
8.         Untuk menentukan insersi NGT, minta klien untuk rileks dan bernafas normal. Kemudian cek udara yang melalui lubang hidung, caranya: pijit salah satu kuping hidung dan rasakan aliran udara pada lubang hidung yang bebas dan begitu pula sebaliknya.
9.         Pasang sarung tangan
10.     Mengukur panjang selang yang akan dimasukkan dengan menggunakan:
a.    Ukur jarak dari puncak lubang hidung ke daun telinga bawah dan ke prosesus xyfoideus di sternum.
b.    Ukur selang dari puncak dahi ke epigastrium.
c.    Ukur selang dari daun telinga bawah kepuncak lubang hidung dan ke prosesus xyfoideus di sternum.
11.     Beri tanda pada panjang selang yang sudah di ukur.
12.     Olesi jeli pada NGT sepanjang 10-20 cm.
13.     Atur posisi klien dengan kepala ekstensi, dan masukkan selang melalui lubang hidung yang telah ditentukan.
14.     Masukkan slang sepanjang rongga hidung. Jika terasa agak tertahan, putarlah slang dan jangan dipaksakan untuk dimasukkan.
15.     Lanjutkan memasang slang sampai melewati nasofaring (3-4 cm) anjurkan pasien untuk menekuk leher dan menelan.
16.     Dorong pasien untuk menelan dengan memberikan sedikit air minum (jika perlu). Tekankan pentingnya bernafas lewat mulut.
17.     Jangan memaksakan slang untuk masuk. Jika ada hambatan atau pasien tersedak, sianosis, hentikan mendorong selang. Periksa posisi slang di belakang tenggorok dengan menggunakan sudip lidah dan senter.
18.     Jika telah selesai memasang NGT sampai ujung yang telah ditentukan, anjurkan pasien untuk rileks dan bernafas normal.
19.     Periksa letak slang dengan cara:
a.        Memasang spuit pada ujung NGT, memasang bagian diafragma stetoskop pada perut di kuadran kiri atas pasien (lambung) kemudian suntikkan 10-20 cc udara bersamaan dengan auskultasi abdomen.
b.        Dengan menggunakan spuit, mengaspirasi pelan-pelan untuk mendapatkan isi lambung.
c.         Memasukkan ujung bagian luar slang NGT ke dalam waskom yang berisi air. Jika terdapat gelembung udara, slang masuk ke paru-paru, jika tidak slang masuk ke dalam lambung
20.     Oleskan alkohol pada ujung hidung pasien dan biarkan sampai kering.
21.     Yakinkan slang tidak tersumbat dengan cara:
a.        Masukkan makanan dengan aliran perlahan (perhatikan: aliran air dan jarak corong 30 cm dan lihat reaksi pasien terhadap rasa tidak nyaman).
b.        Setelah makan masukkan 15-30 ml air putih (bila ada obat dalam bentuk tablet haluskan dahulu).
c.         Fiksasi slang dengan plester 10 cm dan silangkan plester pada slang yang keluar dari hidung
22.     Klem dan tutup ujung slang dengan kassa dan plester / karet gelang.
23.     Penitikan slang kebaju pasien. Biarkan pasien pada posisi semifowler / fowler selama 15-30 menit.
24.     Evaluasi klien setelah terpasang NGT.
25.     Rapikan alat.
26.     Perawat cuci tangan.
27.     Dokumentasikan hasil tindakan pada catatan perawatan.
  
BAB III
KESIMPULAN
Memberi makan dan minum pada pasien-pasien yang mengalami gangguan-gangguan tertentu bisa dibantu oleh perawat, keluarga atau berkolaborasi antara keduanya.
        Sebagai perawat yang membantu pasien dalam makannya, kita juga perlu memperhatikan makanan yang diperuntukkan kepada pasien dengan tujuan pemenuhan kebutuhan nutrisi pasien dengan memberi makan pasien tersebut yaitu semata-mata untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi pasien dengan membangkitkan selera pasien pada pasien yang tidak mandiri serta untuk mempercepat proses penyembuhan dan hospitalisasi yang di lakukan.
Adapun cara-caranya yaitu :
a.      menyiapkan makanan dan minuman pasien.
b.      menghidangkan makanan dan minuman pasien.
c.       membantu pasien makan dan minum secara oral.
d.      memberi makan melalui NGT ( Nasogastric Tube).


DAFTAR PUSTAKA
Ester, Monica. 2005. Pedoman Perawatan Pasien. Jakarta : EGC
Hidayat, A. Aziz Alimul dan Musrifatul Uliyah. 2008. Praktik Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : Salemba Medika
Potter, Patricia A dan Anne G. Perry. Fundamental Keperawatan Buku 3 Edisi 7. Jakarta : Salemba Medika

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Pages - Menu

Followers

Blogroll

About

Blogger templates